Peranan Maria Dalam Menantikan Roh Kudus

Peranan Maria dalam menantikan Roh Kudus adalah sesuatu yang penting. Kita semua mengetahui bahwa Maria dan Roh Kudus memiliki hubungan yang sangat erat dan itu samasekali tak terpisahkan. Tanpa kehadiran Roh Kudus sebetulnya Maria tidak bernilai apa-apa. Kealpaan Roh Kudus dalam hidup Maria sama dengan mengatakan demikian: Maria itu tidak ada bedanya dengan ciptaan Allah lainnya (manusia lainnya). Jikalau memang demikian, maka Maria sejatinya bukan lagi disebut sebagai “wanita istimewa dan serba unggul” di antara segala makhluk (bdk. Lumen Gentium 55). Sebaliknya, dengan adanya Roh Kudus dalam hidup Maria, justru secara tepat membuat wanita sederhana dari Nazaret ini menjadi pribadi yang sangat istimewa di sepanjang sejarah hidup manusia. Dalam iman Kristiani, antara Maria dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan, keduanya begitu menyatu dan memiliki relasi yang sangat mendalam.

Melalui tulisan sederhana ini, kami ingin melihat sejauh mana relasi antara Roh Kudus dan Maria serta seperti apakah relasi itu. Dari relasi tersebut, kami juga hendak menggali lebih lanjut peran penting yang dimainkan Maria tatkala mendampingi dan membimbing para Rasul (baca: anggota Gereja) dalam menantikan datangnya Roh Kudus. Untuk membantu kita memahami dengan lebih baik dan jelas relasi itu, kami menyajikan beberapa pemikiran dan refleksi Santo Louis de Montfort tentang hubungan antara Roh Kudus dan Maria.

I. RELASI YANG TETAP ANTARA ROH KUDUS DAN MARIA

Menurut studi seorang teolog dan mariolog Montfortan, Stefano de Fiores,[1] berdasarkan terang penafsiran Injil Sinoptik, tatkala kita hendak mendefinisikan hubungan antara Maria dan Roh kudus, adalah lebih tepat jikalau memakai sebutan berikut ini: tempio (bait), santuario (kenisah) seperti yang digagas oleh Konsili. Atau lebih baik lagi andaikata menyebut Maria dengan beberapa sebutan berikut ini: coperatrice (rekan kerja), segno (tanda), icona (ikon), dll. Jadi, antara Maria dan Roh Kudus terdapat sebuah persatuan yang tetap dan sangat mendalam karena cinta. Persatuan itu tak dapat dipisahkan (indissolubile), sempurna dan tak bercampur antara keduanya. Mariolog ini mengatakan bahwa persatuan antara Maria dan Roh Kudus pada hakekatnya menyuburkan kelahiran Putra Allah (Mat 1:18-20).[2]

Menurut penjelasan beberapa pakar-teolog lainnya, sebutan sposa dello Spirito Santo (Mempelai Roh Kudus) tidak hanya bernuansa devosional, tetapi juga secara teologis memiliki dasar yang kuat, bahkan jika itu tidak masuk dalam “deposit” iman. Terkait dengan sebutan Maria sebagai “Mempelai Roh Kudus”, Paus Paulus VI (1963-1978) dalam Anjuran Apostoliknya, Marialis Cultus, no. 26 mengingatkan bahwa beberapa penulis memandang hubungan klasik Roh Kudus – Maria sebagai sebuah relasi “sponsial.” Sementara itu, Paus Yohanes Paulus II (1978-2005) secara jelas mengatakan bahwa ketika Roh Kudus turun atas Maria dalam peristiwa Anunsiasi, ia “è diventata la fedele sua sposa” (menjadi pengantin yang setia).[3]

Diskursus tentang hubungan atau relasi antara Maria dan Roh Kudus merupakan sebuah relasi yang sangat khusus, unik. Kerjasama Maria dan Roh Kudus sebetulnya sudah terjadi sejak Peristiwa Anunsiasi (bdk. Luk 1:26-38). Terkait dengan ini, dalam misteri Inkarnasi, Roh Kudus memiliki peran yang tunggal dan tak tergantikan. Pribadi Ilahi yang ketiga ini memainkan peran yang khas dan amat penting untuk menyuburkan rahim Maria. Santo Louis de Montfort (1673-1716) [selanjutnya disebut Montfort], seorang pakar dan “Guru Spiritualitas Marial”[4] sekaligus “teolog klasik” yang berbobot sebagaimana kata Paus Yohanes Paulus II[5], dapat membantu kita memahami dengan baik relasi antara Maria dan Roh Kudus. Orang suci Perancis ini sangat gemar berbicara tentang relasi yang istimewa antara Roh Kudus dan Maria.

Sebagai anak di zamannya dan bagian integral dari Sekolah Spiritualitas Perancis, Montfort adalah seorang yang sangat terpukau ketika merenungkan misteri Inkarnasi sebagai sebuah kerjasama yang mengagumkan antara Roh Kudus dan Maria.[6] Ia memandang Maria sebagai seorang pribadi yang telah menemukan kepenuhan kebebasannya dalam membiarkan dirinya dituntun oleh Roh Kudus. Perawan suci ini pun mau bekerjasama secara aktif dengan-Nya untuk melaksanakan rencana keselamatan Allah, yaitu “Penjelmaan Putra-Nya.”

Dalam mempersiapkan proyek agung sejarah keselamatan ini, Montfort melihat bahwa Allah Tritunggal Mahakudus telah memutuskan dengan bebas memilih Maria, wanita sederhana (bdk. Luk 1:26-38). Tawaran Allah ini diterimanya dengan penuh ketulusan hati. Kesediaan Maria untuk bekerjasama dengan Allah Tritunggal demi mewujudkan rencana itu, justru menjadikannya sebagai “Bait Suci dan tempat istirahat Tritunggal Mahakudus.”[7]

Roh Kudus dilihat Montfort sebagai Dia yang telah mempersiapkan dan membentuk Maria sebagai “firdaus duniawi” dari ciptaan baru, sebuah firdaus dari cinta murni, yang hanya dikhususkan bagi Putra Allah.[8] Oleh karena itu, Maria menjadi master piece (baca: mahakarya-Nya)[9] dari penciptaan karena rahmat Roh Kudus, yang adalah “kasih yang meraja (substansial) antara Bapa dan Putra.[10] Montfort berkata:

“Saya bersaksi dengan para kudus bahwa Maria yang dipenuhi Allah adalah taman firdaus Adam Baru. Di situ Dia menjadi manusia oleh karya Roh Kudus untuk mengadakan mukjizat-mukjizat yang tak terpahami.”[11]

Dari begitu banyak teks yang melukiskan hubungan antara Roh Kudus dan Maria dalam karya tulis Montfort, kita mengutip beberapa yang mengungkapkan penjelasan tentang hubungan antara Roh Kudus dan kebundaan Maria pada Penjelmaan: “Bersama dengan Roh Kudus, Maria telah menghasilkan mukjizat yang terbesar dari segala zaman: Seorang Allah-Manusia.”[12] Orang kudus ini memandang “rahim” yang perawan dari Maria merupakan ruang kehadiran Allah yang menjadi manusia. Hanya melalui perspektif karya Roh Kudus inilah, Montfort berbicara tentang kebundaan Maria. Ia berkata: “Dengan wanita ini, di dalam dia, dari dia, Roh Kudus telah menghasilkan karya seni-Nya: Allah menjadi manusia.”[13]

Apa yang dikatakan tentang Inkarnasi sebetulnya itu merupakan buah kerja sama atau suatu kolaborasi yang tetap dan sinergis antara Roh Kudus dan Maria. Untuk menjelaskan dimensi “kebundaan [keibuan] Maria”, Montfort menggunakan sebuah metaphor, seperti “Cetakan Allah.”[14] Menurutnya, Maria menjadi sebuah “wadah, mal” (baca: cetakan) dari Allah guna mewujudkan “kesuburan-Nya”, yaitu dengan menghasilkan di dalam dia dan melalui dia Yesus Kristus dan anggota-anggotanya.[15] Demikian pula andaikata Montfort mengalamatkan kepada Roh Kudus kata yang berhubungan dengan perkawinan, yaitu dengan menyapa Maria sebagai “Mempelai Roh Kudus”,[16] maka sebetulnya itu selalu dipahami dalam kerangka untuk mengungkapkan misteri keibuan Maria karena kuasa Roh Kudus.[17]

Relasi sinergis antara Maria dan Roh Kudus seperti yang dipikirkan Montfort, sejatinya tidak lepas dari anggapan teologi sebelumnya yang memisahkan Maria dari Roh Kudus atau memandang bahwa Maria samasekali tidak terkait erat dengan Roh Kudus. Dia menjadi sosok yang isolatif dari Roh Kudus. Ringkasnya keterpisahan ini – antara Maria dan Roh Kudus – seolah-olah memberi kesan bahwa Roh Kudus samasekali tidak punya peran unggul atas Perawan Suci dan Maria “seakan-akan” memiliki kuasa dan kekuatannya tersendiri tanpa kehadiran Roh Kudus. Justru sebaliknya menegaskan suatu kolaborasi-kerjasama yang harmonis dan konstan, yang mengalirkan daya kekuatan yang dahsyat antara Maria dan Roh Kudus. Tentang bagaimana relasi dan kolaborasi yang terjalin antara keduanya, A. Suhardi dalam studinya menulis:

“Dalam kaitannya dengan Roh Kudus, Lumen Gentium bab VIII telah menawarkan rujukan yang sangat berharga tentang relasi antara Roh Kudus dan Maria, seperti tampak pada nomor-nomor berikut ini. Awal eksistensi: Roh Kuduslah pelaku utama kekudusan Maria, yang sebagai bunda Allah dia tidak hanya kenisah Roh Kudus (LG 53), tapi juga suci seutuhnya dan tidak terkena oleh cemar dosa mana pun juga, bagaikan makhluk yang diciptakan dan dibentuk baru oleh Roh Kudus (LG 56); Saat Penjelmaan: Maria bekerja sama dengan Roh Kudus dalam misteri Penjelmaan, Putra Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, tapi dalam naungan Roh Kudus (LG 63); Saat Pentekosta: Pada Gereja perdana di Yerusalem, kita lihat Maria juga dengan doa-doanya memohon karunia Roh, yang pada Warta Gembira dulu sudah menaunginya (LG 59); Saat menjalankan misi kebundaan kini dalam Gereja: menganut bimbingan Roh Kudus Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih-sayang sebagai bundanya yang tercinta (LG 53).”[18]

Kehadiran Maria bersama para Rasul di ruang atas (cenakel) memiliki makna yang sangat mendalam. Sehubungan dengan ini, Penginjil Lukas berkata: “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus” (Kis 1:14). Dari sini dapat dilihat bahwa ternyata Maria berada di tengah-tengah para Rasul dan para murid Yesus. Ia hadir bersama dengan mereka dalam rangka menantikan kedatangan Roh Kudus. Harus disadari bahwa pada hakikatnya, kehadiran Maria bersama para Rasul di ruang atas merupakan sebuah peristiwa yang memiliki makna yang sangat mendalam dan memberi arti bagi kelahiran baru setiap anggota Tubuh Mistik Kristus.

II. MARIA AKTIF MENEMANI PARA RASUL MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS

Hubungan erat antara Maria dan Roh Kudus dapat dilihat dalam peristiwa “Pentekosta.” Bersama dengan para Rasul, Maria aktif menantikan kedatangan Roh Kudus. Sebagai seorang pribadi yang telah diberi kepercayaan oleh Yesus Putranya mendampingi murid yang dikasihi-Nya (Yohanes), Maria memang kemudian menjadi Bunda dari murid tersebut. Dia tidak hanya sekedar menjadi Bunda dari Yohanes (bdk. Yoh 19:25-27), tetapi juga menjadi Bunda dari semua orang yang merindukan keselamatan dari Putranya. Itulah sebabnya mengapa Paus Paulus VI melalui Anjuran Apostolik Marialis cultus no.21 menyebut Maria sebagai “singulis christianis pietatis magistra” (Guru rohani setiap murid Kristiani),[19] dia menjadi ibu yang rohani bagi semua murid-Nya yang lain. Sebagai seorang yang telah diberi kekuasaan yang besar oleh Putranya menjadi Bunda dari semua muridnya (diwakili oleh Yohanes pada peristiwa di kaki Salib), Maria kini pun tetap menjadi seorang Bunda yang setia menjalankan peran keibuan rohaninya itu bagi setiap orang. Setiap murid Kristus pun dipanggil untuk masuk dan tinggal bersama Maria, memandangnya sebagai “guru” dan “ibu” yang ikut mendidik dan membentuk mereka. Jadi, dalam arti ini – samaseperti dahulu Maria telah melahirkan, mendidik dan membentuk Yesus Putranya – demikian pula pada masa kini, dia juga tetap menjalankan tugas dan fungsinya yang sama. Dia tidak lagi menjadi Ibunda eksklusif Putranya secara biologis, tetapi juga menjadi “ibu” secara spiritual bagi semua murid Kristus. Keibuan atau kebundaan Maria tidak hanya terbatas pada sisi biologis semata, tetapi mencakup juga dimensi lainnya, yakni dimensi psikologis dan spiritual. Maria tidak hanya sekedar menjadi Bunda Allah semata, dalam arti Allah hanya mengambil atau memperoleh tubuh manusiawi-Nya melalui dia dan berhenti selesai. Kebundaan Maria justru mencakup beberapa dimensi lainya, yakni jiwa, kehendak, akal budi, hati, serta seluruh hidupnya.[20] Peran yang ditunjukkan Maria sebagai “ibu” yang telah diberi kepercayan besar oleh Putranya itu (bdk. Yoh 19:26-27), kini dilanjutkan dan dihayati dalam kehadirannya bersama Gereja. Hal ini mulai diwujudkan secara setia, yakni menemani dan mendampingi para Rasul dalam menantikan kedatangan Roh Kudus (bdk. Kis 1:14).

Kehadiran Maria bersama para Rasul tersebut sebetulnya memperlihatkan betapa ia bersatu erat dengan anggota Gereja lainnya. Dalam konteks ini, tepatlah apabila Maria berada bersama mereka, yakni ia berada di tengah-tengah Gereja dalam persekutuan dengan anggota-anggotanya. Maria memang hadir pada Pentekosta dalam keheningan, akan tetapi dia yang secara total diubah oleh Roh Kudus, pun dapat mendampingi [para Rasul] dalam menantikan kedatangan Roh yang sama yang akan membentuk Gereja (Kis 1:14; 2:1-4).

Makna Kehadiran Maria sebagai “Bunda Cenakel”

Peran kebundaan Maria secara paling mengagumkan tampak pula pada Cenakel, tatkala bersama para Rasul ia menantikan kedatangan Roh Kudus. Tentang ini, Kisah Para Rasul memberikan suatu informasi yang menarik. Penulis kisah tersebut menceritakan bahwa selama masa penantian – sejak Kenaikan Kristus sampai Pentekosta, kedua belas Rasul sehati berkumpul di Ruang Atas (Cenakel) “mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta maria, ibu Yesus … .” (Kis 1:14). Bagi Pierre Paul Phillippe, apakah memang betul pada saat itu Maria memberikan pengajaran tertentu kepada para Rasul tentang kehidupan dan kepribadian Yesus? Yang pasti Maria senantiasa bertekun dalam keheningan doanya. Menurut Phillippe, tentu saja, dapat dibayangkan bahwa Maria hendak menjawab setiap pertanyaan tentang Kristus yang datang dari para Rasul padanya. Namun, sebetulnya di saat yang sukar itu, meditasi Sang Bunda mestinya mengalami suatu kebijaksanaan yang mendalam dan kemudian itu menuntun Para Rasul setia berdoa dalam hati.

Dalam konteks tersebut, Maria merasakan betapa mengagumkan rahmat-rahmat yang akan turun dari surga atas manusia yang lemah, bagi mereka yang punya keterbatasan dalam mencari dan mengerti akan segala sesuatu. Selain itu, Maria pun dapat merasakan bahwa ternyata rahmat-rahmat yang dinantikan itu akan mengubah mereka menjadi penopang utama Gereja. Di sini, Maria berdoa dengan segenap kekuatan hatinya, memohon kehadiran Roh Kudus agar selalu melimpah atas mereka dan mengubah mereka seluruhnya. Phillippe mengatakan bahwa pada poin ini, sebetulnya Maria memohon Roh Kudus agar Ia berkenan memenuhi mereka dengan Roh Yesus, untuk menjadikan mereka “Kristus yang lain”.[21]

Dari sebab itu, iman Bunda Maria pada dasarnya tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sangat komunal. Hal ini sebetulnya menegaskan keunggulan dan keistimewaan Maria atau menempatkannya ke dalam persekutuan dengan Gereja, yakni sebagai anggota Gereja. Maria tidak berada jauh atau terpisah dari Gereja seperti pandangan teologi (Mariologi) pra-Konsili yang menyejajarkan posisi Maria dengan Kristus atau Maria itu disamakan dengan Kristus. Misalnya, jikalau Kristus disebut Raja (Re), maka Maria disebut Ratu (Regina). Andaikata Kristus disebut Pengantara (Mediatore), maka Maria pun disebut perantara (Mediatrice). Cara berpikir seperti ini disebut cristotipica (memandang Maria dari perspektif Kristus atau Mariologi tipe Kristus)[22] sebagai lawan dari pandangan ecclesiotipica (melihat Maria dari perspektif Gereja atau Mariologi tipe Gereja). Ini merupakan dua tendensi yang muncul ketika para Bapa Konsili hendak membicarakan Santa Perawan Maria. Rupanya mereka tidak memiliki sudut pandang yang sama. Yang terlihat ialah mereka mengerucutkan ide atau pandangan masing-masing ke dalam dua tendensi yang berbeda (cristotipica-ecclesiotipica). Dalam Konsili, memang kedua kubu dengan tendensi yang sangat berbeda senantiasa bersikukuh mempertahankan keyakinan mereka. Sekalipun demikian, pada akhirnya tetap diperlukan suatu solusi yang pasti dan hasilnya kemudian disepakati dalam perumusan final. Memang setelah melalui perdebatan yang panjang dan melelahkan, akhirnya diadakan suatu tahapan voting (29 Oktober 1963) untuk menyusun suatu skema tertentu. Konsili menetapkan bahwa ajaran tentang Maria harus dimasukkan dalam skema tentang Gereja.

Dalam perumusan akhir, Maria (Mariologi) ditempatkan pada bab terakhir, yakni bab VIII dari Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen gentium). Perumusan ini merupakan sebuah hasil yang sangat memuaskan sebab Konsili berhasil mengatasi ketegangan antara Mariologia cristotipica (Mariologi kristotipikal) dan Mariologia ecclesiotipica (Mariologi eklesiotipkal). Dengan demikian, Konsili berhasil menelurkan suatu “Mariologi yang trinitaris-kristosentris”,[23] di mana Maria ditinjau dalam misteri Kristus dan Gereja sebagaimana judul bab VIII Lumen gentium: De beata Maria vergine Deipara in Mysterio Christi et Ecclesiae (Santa Perawan Maria Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja). Jadi, di satu pihak Maria dipersepsi sebagai anggota Gereja yang ditebus pertama kali oleh Kristus, dan oleh karena itu, dia menjadi model-teladan Gereja. Ringkasnya, Gereja menatapnya sebagai typos atau model unggul. Maria juga – jikalau dilihat dari perspektif ini – adalah Gereja yang mempribadi.[24]

Di pihak lain, pada level yang lebih tinggi, Maria sebagai Bunda Allah dan Ibunda Penebus, berada di atas Gereja. Pada posisi seperti ini, Perawan Suci disatukan dalam tindakan penyelamatan Yesus Kristus.[25] Melalui perumusan seperti ini, maka betul sekali apabila para ahli mengatakan bahwa ilmu tentang Maria atau Mariologi seharusnya disatukan dengan Eklesiologi dan Kristologi. Berkaitan dengan hal ini, De Fiores menulis:

“Mariologi Konta-Reformasi Tridentin cenderung menegaskan kehormatan Sang Perawan dalam menghadapi keraguan yang diajukan oleh kaum Protestan. Berhadapan dengan upaya yang mereduksi Maria sebagai seorang beriman sederhana, umat Katolik melihat pemuliaan Bunda Kristus justru dalam hak istimewa yang diberikan kepadanya berkat persatuannya dengan Sang Putra. Bahkan kebaktian Sang Perawan terkadang memiliki warna-warni yang intimistis dan individualistis. Dalam beberapa dekade terakhir, gerakan eklesiologis tampak dalam arah yang berlawanan: Maria harus berada di dalam Gereja, dalam persekutuan para kudus, seorang beriman yang rendah hati dalam komunitas awali, dalam konteks partisipasi dan fungsionalitas, bukan sebagai (pribadi yang memiliki) hak istimewa dan terisolasi. Dengan kata lain, Maria tidak berada di atas Gereja sebagai yang pertama dan (sebagai) ibu dan yang menyelamatkannya.”[26]

Sebagai anggota Gereja, Maria pertama-tama dilihat sebagai wanita istimewa dan unggul dari semua anggota Gereja lainnya sebagaimana yang ditegaskan oleh Konsili Vatikan II.[27] Keunggulan Maria di sini selain karena ia memiliki iman yang mendalam, kasihnya yang menyala-nyala,[28] dan kerendahan hatinya yang mendalam, juga karena persatuan erat antara Roh Kudus dan Maria sebagai mempelai-Nya yang tersuci. Di dalam Maria, setiap orang dapat dibentuk, dididik dan dibina seperti yang ditegaskan oleh Montfort. Ia berkata bahwa “Allah Roh Kudus mau membentuk orang-orang terpilih bagi diri-Nya di dalam Maria dan melalui Maria.”[29] Dalam peristiwa Penjelmaan Sang Sabda, Roh Kudus telah membentuk Kepala Gereja, yaitu Kristus, di dalam dan melalui Maria. Demikian halnya, dalam Pentakosta kedua (Roh Kudus turun atas para Rasul), Roh Kudus pun turut membentuk anggota-anggota Tubuh Mistik Kristus.[30]

Montfort juga menegaskan bahwa “Apabila Roh Kudus, Mempelai Maria, menemukan Maria di dalam satu jiwa, maka Roh Kudus cepat-cepat ke sana, menetap di situ dan memberi diri-Nya secara melimpah kepada jiwa itu.”[31] Ungkapan ini sesungguhnya mau menegaskan bahwa Roh Kudus sangat leluasa berkarya dan bertindak menurut kehendak hati-Nya. Ia bebas berkarya di dalam dan melalui Bunda Maria. Maria pun mengajarkan murid-murid Putranya supaya dapat menghayati kebajikan yang sama (keterbukaan terhadap rencana dan kehendak Allah dalam hidup), sehingga Montfort dengan lantang berseru: “Berbahagialah, ya seribu kali berbahagialah orang yang menerima wahyu dari Roh Kudus untuk mengenal “rahasia Maria.”[32]

III. PANGGILAN UNTUK MENJADI MURID KRISTUS DAN BUNDANYA

Setiap umat Kristiani memiliki panggilannya yang luhur. Salah satu panggilan utamanya ialah “mengikuti Kristus” (bdk. Mat 8:18-21).  Menjadi pengikut Kristus tidak cukup hanya dengan menaruh sikap hormat dan percaya serta menyembah Allah, tetapi juga belajar mewujudkan secara nyata arti kemuridan di hadapan-Nya dengan setia mewujudkan perintah dan kehendak-Nya. Bunda Maria adalah sosok yang tepat menjadi teladan kemuridan kita. Dia tidak hanya mengimani Allah secara total, tetapi juga menghayati arti kemuridannya di hadapan Allah dengan setia menjawab “ya” (bdk. Luk 1:38) pada rencana dan kehendak-Nya.

Samaseperti Maria yang setia menghayati arti kemuridannya di hadapan Allah; dia yang setia dan taat kepada Allah, demikian juga setiap orang Kristiani dipanggil untuk bersatu erat bersama Maria dalam mewujudkan panggilan kemuridan tersebut.

Maria Hadir dalam Kehidupan Setiap Murid Kristus

Pentingnya kehadiran Maria dalam kehidupan seorang murid Kristus merupakan salah satu karakater dari Spiritualitas Montfort. Menurut Montfort, adalah mustahil menjadi “kaum pilihan” tanpa memiliki devosi yang sejati kepada Perawan Suci Maria. Dalam buku kristologisnya, orang kudus ini menulis:

“Mungkin seseorang yang ingin membaktikan diri kepada Santa Perawan mau bertanya demikian kepadaku: Apakah unsur-unsur sikap bakti sejati kepada Maria. Aku menjawab pendek dan tegas bahwa unsur-unsurnya adalah kehormatan tinggi bagi kebesarannya, rasa terima kasih bagi kebaikannya, semangat besar bagi kemuliaannya, permohonan terus-menerus untuk bantuannya dan tunduk sepenuhnya kepada kekuasaannya, bantuan tetap dan kepercayaan lembut dalam kebaikan bundawinya.”[33]

Sebetulnya apa yang disebut dengan seorang penghormat Maria yang sejati ialah seorang murid sejati Yesus Kristus sebagaimana yang terungkap dalam kata-katanya: “Banyak hal sudah saya katakan tentang Perawan Suci, dan banyak lagi yang akan saya katakan, tetapi jauh lebih banyak lagi tidak akan saya bahas di sini … dalam rangka membina seorang penghormat Maria yang sejati dan seorang murid Yesus Kristus yang sejati.”[34] Sekalipun peran Maria samasekali tidak dibatasi hanya pada aspek ini saja, dia yang adalah Bunda Tuhan, menjadikan seorang beriman sebagai murid Kristus yang sejati. Kemuridannya ini selalu dihayati dalam konteks relasi dan kerjasamanya dengan Roh Kudus. Dari sebab itu, sebagaimana Maria sendiri adalah seorang beriman yang percaya kepada Allah (bdk. Luk 1:38; 46-55; Yoh 2:1-11), memiliki relasi yang intim istimewa dengan Roh Kudus (bdk. Mat 1:18-20; Luk 1:28.30.35; Kis 1:14), demikian halnya pula seorang penghormat sejati Maria. Dalam arti ini, dia pun memiliki panggilan untuk menjalin persatuan dan relasi yang erat dengan Roh yang sama.

Berkaitan dengan panggilan kemuridan ini, sebetulnya mudah sekali bagi kita jikalau hendak menelusuri latar-belakang visi Yohanes a la Montfort tentang kemuridan Maria (bdk. Yoh 19:25-27). Menurut Alberto Valentini, ekseget Montfortan, ternyata ada berbagai macam karakteristik kemuridan yang pada hakikatnya lebih menyangkut relasi seorang anak dengan Perawan Suci. Ia melihat bahwa relasi yang demikian justru mendorong Montfort sedemikian rupa sehingga ia pun merahasiakannya. Dan inilah rahasia spiritualitas Montfort.[35] Dalam konteks seperti ini Montfort tidak ragu menunjukkan dua model hidup yang terkait satu sama lain, yakni “seorang penghormat Maria yang sejati dan seorang murid Yesus Kristus yang sejati.”[36]

Melalui pengajaran marial sebagaimana yang bisa dibaca dalam tulisan-tulisannya, sebetulnya Montfort memperlihatkan banyak hal yang bisa dijadikan pola dan gaya hidup sebagai murid-murid sejati Yesus Kristus dan Bunda-Nya. Melalui devosi atau bakti yang ia ajarkan, setiap orang Kristiani dihantarnya untuk menyelami cinta kasih kepada sesamanya dan menunjukkan kepada mereka bahwa itulah arti sejati menjadi seorang murid Kristus. Montfort berkata:

“Sebuah pertimbangan lain yang mendorong kita untuk menghayati bentuk bakti yang konkret ini adalah amal kasih yang akan diterima oleh sesama kita. Karena dengan bentik bakti ini kita melaksanakan dengan cara yang sangat baik cinta kasih terhadap sesama. Karena kita memberi melalui tangan Maria segala milik yang sangat bernilai bagi diri kita sendiri, yaiut nilai pelunasan dan nila pahala dari segala karya amal kita, tanpa mengecualikan pikiran baik yang terkecil dan penderitaan yang paling ringan sekalipun.”[37]

Gambaran yang ideal mengenai kemuridan sebetulnya pada Montfort merujuk pula pada teks Yoh 19:26-27. Di situ tampak hadir seorang murid yang dikasihi Yesus dipercayakan kepada bimbingan Sang Bunda, Maria. Montfort menyatakan bahwa murid inilah yang mewakili semua “murid” yang lain. Mereka semua pun menjadi murid Perawan Maria. Secara lantang Montfort berkata:

“Oh! Betapa bahagianya manusia yang telah menyerahkan dan mempercayakan diri kepada Maria dalam segalanya dan untuk segalanya, serta menenggelamkan diri di dalam dia! Dia menjadi milik Maria seutuhnya dan Maria menjadi milik dia seutuhnya. Dengan berani dia boleh mengulangi kata-kata Daud, “Inilah yang kuperoleh” (Mzm 119:56), Maria diciptakan untukku, atau kata-kata murid yang dikasihi: Aku telah menerima diri di dalam rumahku (Yoh 19:27). Atau dengan menggunakan kata-kata Yesus Kristus: Segala milikku adalah milikmu dan segala milikmu adalah milikku (lihat Yoh 17:10).”[38]

Bagi orang kudus ini, semua murid tersebut yang dipercayakan pada bimbingan Maria akan menerima suatu keyakinan yang penuh pada Allah dan pada diri mereka sendiri. Dikatakan demikian oleh karena Montfort melihat bahwa mereka akan mendekati Yesus Kristus tidak lagi berdasarkan kekuatan mereka sendiri, melainkan selalu melalui Bunda yang baik itu. Selain itu, keyakinan penuh ini pun diperoleh karena Maria sendirilah yang akan membiarkan mereka ambil bagian dalam keutamaan-keutamaannya dan mendandani mereka dengan pahala-pahalanya. Monfort berkata; “Anda telah menyerahkan kepadanya seluruh pahala, rahmat dan balas jasa Anda agar dia dapat menggunakannya sesuai kehendak hatinya. Maka anda juga akan dapat berkata kepada Allah dengan penuh kepercayaan, “Aku ini Maria, hamba-Mu, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:32).[39]

PENUTUP

Panggilan hidup Maria yang setia dan terarah serta bersatu erat dengan Roh Kudus sejatinya dapat pula menjadi sebuah pilihan dan gaya hidup manusia Kristiani. Sembari menantikan datangnya Roh Kudus (Pentekosta), Maria tidak hanya berhenti mendampingi para Rasul di masa lampau di ruang atas (Cenakel), berkumpul dan berdoa bersama mereka. Dia juga tidak hanya berhenti “mengajari” para Rasul siapa itu Kristus Putranya dan segala macam misteri yang ada pada-Nya. Maria yang sama pula ikut menemani, mendampingi dan membimbing murid-murid dari Kristus Putranya di zaman ini. Melalui didikan, ajaran dan bimbingannya, Maria turut membentuk kita menjadi pribadi yang setia, taat dan terarah pada Roh Kudus.

Di tengah gaya hidup dunia yang terus-menerus dibanjiri oleh berbagai tawaran dan kenikmatan hidup yang semu di zaman ini, setiap orang Kristiani ditantang untuk menyatakan dan membaharui hidupnya secara baik dan benar dengan cara membiarkan diri dibaharui oleh Roh Kudus. Ketika dunia lebih menekankan individualisme, pencarian jati diri yang semu dan dangkal melalui perkembangan zaman, di situ ada semacam suatu kekosongan hidup yang perlu diisi dan dibaharui. Dalam konteks ini, ajaran marial Montfort dapat membantu umat Kristiani untuk secara terus-menerus membentuk kepribadian mereka sebagai anak yang taat dan setia pada Allah dan Bunda-Nya, tepatnya menjadi pribadi yang relasional dengan Allah seperti Perawan Suci Maria yang selalu terarah dan setia pada-Nya.

RP. Fidel Wotan, SMM


[1] Stefano de Fiores adalah seorang professor ternama, Biarawan dan Imam Montfortan Italia yang terkenal secara luas sebagai salah seorang teolog dan mariolog besar. Meskipun beliau sudah meninggal (+ 2012), namun dari hasil karya-karya ilmiah di bidang teologi dan khususnya Mariologi telah turut melambungkan namanya sebagai seorang pakar di bidang Mariologi. Bersama dengan René Laurentin (mariolog asal Perancis) keduanya telah memberikan begitu banyak kontribusi bagi perkembangan mariologi saat ini. Sebagai seorang mariolog hebat, De Fiores (1933-2012) telah mendedikasikan seluruh hidupnya secara khusus untuk mencintai dan mendalami figur Bunda Maria. Dia menulis begitu banyak artikel dan buku tentang Maria. Dari semua buku yang pernah dihasilkannya, salah satu buku yang menurut hemat kami paling berkontribusi besar bagi Mariologi di abad XX ini ialah Maria sintesi di valori. Storia culturale della mariologia (2005). Buku ini bisa dikatakan sebagai sebuah karya yang paling utama tentang Maria. Menurut teolog Italia Angelo Amato, buku tersebut mempresentasikan sebuah profil keilmiahan yang paling tinggi levelnya dalam menggali historisitas dan teologi marial. Bdk. A. Amato, Maria la Theotokos, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2011, hlm. 391-392. Lih. pula tulisan kami yang belum diterbitkan. Fidelis Bolo Wotan, Uno studio sulla figura della beata Vergine, Seminari Montfort “Ponsa”, Malang 2019, hlm. 2-5.

[2] Stefano De Fiores, Chi è per noi Maria? Risposta alle domande più provocatorie, Edizioni san Paolo, Cinisello Balsamo, Milano 2001,hlm. 26-27.

[3] Yoh. Paulus II, Surat Ensiklik Redemptoris Mater (Bunda Sang Penebus) 26, Seri Dokumen Gerejawi No. 1, terj. Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Kwi, Jakarta 1987.

[4] Bdk. Redemptoris Mater 48.

[5] Bersama Santo Alfonsus Maria de Liguori (1696-1787) keduanya disebut sebagai ”i grandi maestri” (tokoh-guru besar), tokoh penting yang memberi kontribusi besar bagi perkembangan Mariologi abad modern. Bdk. Salvatore M. Perella, Magisterio ordinario postconciliare (Il dispense), Pontificia Facoltà Teologica, “Marianum”, Roma 2018, hlm. 68.

[6] Sebagian besar pemikiran dan gaya hidup Montfort dipengaruhi oleh Mazhab (Sekolah) Perancis yang dipelopori oleh Kardinal Pierre de Bérulle (+1629). Ada banyak tema yang direfleksikan oleh mazhab ini tentang Allah dan manusia. Salah satu tema dasar, yang menjadi pusat pemikiran dari Sekolah Perancis adalah ”Inkarnasi”.  Bdk.  S. A. Muto, in the Preface to W. A. Thompson, Bérulle and the French School, Paulist Press, New York 1989, hlm. xv-vi. Bdk. François-Marie Léthel, “L’amour de Jésus-Christ En Marie”, dans Secrétariat Via Prenestina (ed.,), Louis-Marie de Montfort. Théologie Spirituelle, Centre International Montfortain, Rome 2002, hlm. 79.

[7] Louis Marie Grignion De Montfort, Bakti Sejati kepada Maria no. 5 terj. Mgr. Ishak Doera, Pr, Serikat Maria Montfortan, Bandung 2000. (Disingkat BS).

[8] Lih. BS 18, 45, 248, 261, 263.

[9] Lih. Louis Marie Grignion De Montfort, Cinta dari Kebijaksanaan Abadi 106 terj. Serikat Maria Montfortan, Bandung 1995. (Disingkat CKA).Lih. pula BS 5, 50, 115.

[10] BS 36.

[11] BS 6.

[12] BS 35.

[13] BS 20.

[14]  Untuk melukiskan kenyataan yang sama ini, yaitu “keibuan Maria”, Montfort menggunakan ragam istilah atau metaphor lain. Misalnya, ia menyebut Maria sebagai “cetakan Allah”, yang diciptakan oleh Roh Kudus untuk memberi bentuk alamiah kepada Sang Manusia Ilahi lewat persatuan hipostatik dan memberi bentuk ilahi kepada manusia lewat rahmat.” Bdk. Louis Marie Grignion De Montfort, Rahasia Maria,terj. Smm Bandung, Bandung 1993. (Disingkat RM). Lih. pula BS 21, 261.

[15] Bdk. BS 21.

[16] Lih. RM 13, 15; BS 4, 5, 20, 34-36, 49,164, 213, 217, 269; DM 15, 25; K 16, 141.

[17] BS 21.

[18] Lih. Arnoldus Suhardi, “Roh Kudus dalam Mariologi Masa Kini: Keluar dari Medan Implisit”, dalam Studia et Philosophica Vol 5. No. 2, STFT Widya Sasana, Malang 2005, hlm. 170.

[19] Paulo vi, Marialis Cultus no. 21, esortazione apostolica per il retto ordinamento e sviluppo del culto della Beata Vergine Maria, del 2 febbraio 1974, in AAS 66 (1974), hlm.132.

[20] Tentang Kebundaan Maria, Jacques Bur menulis: “The motherhood of Mary is not limited to the biological process of giving birth, since it carries with it a psychological and spiritual dimension. Mary did not become mother of God only found his human body through her. Mary’s motherhood involved the whole of her soul, her will, her intelligence, her heart, her whole being.” Jacques Bur, How to Understand the Virgin Mary, SCM Press Ltd, 26-30 Tottenham Road, London N1 4BZ 1994, hlm. 8.

[21] Bdk. Pierre Paul Philippe, The Virgin Mary and the Priesthood, terj. Laurence J. Spiteri, Alba House, New York 1988, hlm. 18-19.

[22] Bahaya yang muncul dari pandangan ini (cristotipica) ialah Maria disejajarkan dengan Kristus. Kekuasaan Kristus sekaligus juga menjadi kekuasaan Maria. Sebagian teolog, para Bapa Konsili menolak pandangan seperti ini dan mengusulkan pandangan yang menempatkan atau melihat Maria dari perspektif Gereja (ecclesiotipica). Lih. S. M. Perrella, “Percorsi teologici postconciliari: dalla Lumen gentium ad oggi”, in E. M. Toniolo (a cura di), Maria nel concilio, approfondimenti e percorsi, Centro di Cultura Mariana, “Madre della Chiesa”, Roma 2005, hlm. 193-194. Bdk. G. Philips, La Chiesa e il suo mistero: storia, testo e comment della Lumen gentium, Jaca Book, Milano 1975, hlm. 513.

[23] G. L. Müller, Dogmatica cattolica: Per lo studio e la prassi della teologia, San Paolo, Milan 1999, hlm. 581-582.

[24] Bdk. A. Eddy Kristiyanto, Maria dalam Gereja. Pokok-pokok Ajaran Konsili Vatikan II tentang Maria dalam Gereja Kristus, Kanisius, Yogyakarta 1987, hlm. 12-13. Bdk. pula Gregorius Pasi, “Mariologi Konsili Vatikan II: Mikhrohistori Mariologi pra-Konsili dan Magna charta Mariologi Post-Konsili” dalam Studia Philosophica et Theologica, Vol. 16. No. 1, STFT Widya Sasana, Malang 2016, hlm. 44-47.

[25] G. L. Müller, Dogmatica cattolica: Per lo studio e la prassi della teologia, hlm. 581-582.

[26] Stefano De Fiores, Maria presenza viva nel popolo di Dio, Edizioni Monfortane, Roma 1980, hlm. 129.

[27] Lih. Dokumen Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen gentium 53, Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor, Jakarta 2002. (Disingkat LG).

[28] Para Bapa Konsili berkata: “Oleh karena itu, ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, juga sebagai pola teladannya yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih. Menganut bimbingan Roh Kudus, Gereja Katolik menghadapinya penuh rasa kasih sayang sebagai bundanya yang tercinta.” LG 53.

[29] BS 34.

[30] Lih. Fidelis Bolo Wotan, Menjadi Manusia Intelektual dan Marial, Pusat Spiritualitas Marial Montfortan (PSMM), Malang 2019, hlm. 136-138.

[31] BS 36.

[32] RM 20.

[33] CKA 215.

[34] BS 111.

[35] A. Valentini, “Disciple”, dalam Stefano De Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publication, Bay Shore 1994, hlm. 321.

[36] BS 111.

[37] BS 171.

[38] BS 179.

[39] BS 216.

BIBLIOGRAFI

Dokumen Gereja:

Dokumen Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen gentium, Dokumentasi dan Penerangan KWI, Obor, Jakarta 2002.

Yoh. Paulus II, Surat Ensiklik Redemptoris Mater (Bunda Sang Penebus) 26, Seri Dokumen Gerejawi No. 1, terj. Departemen Dokumentasi Dan Penerangan Kwi, Jakarta 1987.

Paulo vi, Marialis Cultus, esortazione apostolica per il retto ordinamento e sviluppo del culto della Beata Vergine Maria, del 2 febbraio 1974, in AAS 66 (1974).

Buku-buku dan Artikel:

Amato, A., Maria la Theotokos, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 2011.

Bolo Wotan, Fidelis, Uno studio sulla figura della beata Vergine, Seminari Montfort “Ponsa”, Malang 2019.

______, Menjdi Manusia Intelektual dan Marial, Pusat Spiritualitas Marial Montfortan (PSMM), Malang 2019.

Bur, Jacques, How to Understand the Virgin Mary, SCM Press Ltd, 26-30 Tottenham Road, London N1 4BZ 1994.

De Montfort, Louis Marie Grignion, Bakti Sejati kepada Maria, terj. Mgr. Ishak Doera, Pr, Serikat Maria Montfortan, Bandung 2000.

______, Cinta dari Kebijaksanaan Abadi, terj. Serikat Maria Montfortan, Bandung 1995.

______, Rahasia Maria,terj. Smm Bandung, Bandung 1993.

De Fiores, Stefano, Maria presenza viva nel popolo di Dio, Edizioni Monfortane, Roma 1980.

______, Chi è per noi Maria? Risposta alle domande più provocatorie, Edizioni san Paolo, Cinisello Balsamo, Milano 2001.

Kristiyanto, A. Eddy, Maria dalam Gereja. Pokok-pokok Ajaran Konsili Vatikan II tentang Maria dalam Gereja Kristus, Kanisius, Yogyakarta 1987.

Léthel, François-Marie, “L’amour de Jésus-Christ En Marie”, dans Secrétariat Via Prenestina (ed.,), Louis-Marie de Montfort. Théologie Spirituelle, Centre International Montfortain, Rome 2002.

Müller, G. L., Dogmatica cattolica: Per lo studio e la prassi della teologia, San Paolo, Milan 1999.

Pasi, Gregorius, “Mariologi Konsili Vatikan II: Mikhrohistori Mariologi pra-Konsili dan Magna charta Mariologi Post-Konsili” dalam Studia Philosophica et Theologica, Vol. 16. No. 1, STFT Widya Sasana, Malang 2016.

Paul Philippe, Pierre, The Virgin Mary and the Priesthood, terj. Laurence J. Spiteri, Alba House, New York 1988.

Perrella, S. M., “Percorsi teologici postconciliari: dalla Lumen gentium ad oggi”, in E. M. Toniolo (a cura di), Maria nel concilio, approfondimenti e percorsi, Centro di Cultura Mariana, “Madre della Chiesa”, Roma 2005.

______, Magisterio ordinario postconciliare (Il dispense), Pontificia Facoltà Teologica, “Marianum”, Roma 2018.

Philips, G., La Chiesa e il suo mistero: storia, testo e comment della Lumen gentium, Jaca Book, Milano 1975.

Suhardi, Arnoldus, “Roh Kudus dalam Mariologi Masa Kini: Keluar dari Medan Implisit”, dalam Studia et Philosophica Vol 5. No. 2, STFT Widya Sasana, Malang 2005.

Muto, S. A., in the Preface to W. A. Thompson, Bérulle and the French School, Paulist Press, New York 1989.

Valentini, A., “Disciple”, dalam Stefano De Fiores (ed.), Jesus Living in Mary, Montfort Publication, Bay Shore 1994.

Bagikan:

Berikan Komentar