gamabar santo montfort sedang berdoa

Kehidupan St. Montfort

Santo Montfort memiliki kunikan. Keunikan ini karena ia yang memiliki relasi dengan Yesus dan menyerahkan hidupnya demi iman mereka kepada Kristus. Sejak kecil ia sudah menampakan relasinya dengan Yesus yang ia cintai. Demikian juga relasinya dengan Ibu Yesus.

Santo Montfort adalah seorang imam Prancis, hidup pada abad ke-17 dan ke-18, yang dia percaya dipanggil oleh Tuhan, untuk membantu memperbarui kehidupan Kristen orang-orang di Prancis Barat melalui khotbah misi parokinya, dan khususnya mempromosikan devosi yang tulus kepada Maria, Bunda Yesus. Kehidupan St. Montfort telah ditulis oleh beberapa penulis biografi. Empat orang penulis pertama kehidupan St. Montfort adalah Grandet, Blain, Besnard, dan Picot de Clorivières. Mereka telah melestarikan bagi kita banyak saksi mata dan dokumen asli, dan mereka menawarkan landasan sejarah yang kuat untuk merekonstruksi banyak kebenaran pada kehidupan Montfort.  Mereka juga mengingatkan kita tentang ciri-ciri yang luar biasa atau yang tidak biasa dalam kepribadian dan perilaku Montfort.

Kehidupan Santo Montfort di Keluarga
Louis-Marie Grignion dilahirkan di Montfort-sur-meu pada 31 Januari 1673. Ia dibaptis keesokan harinya di Gereja Paroki St. Yohanes. Dia adalah outra kedua dari 18 bersaudara (8 putra dan 10 putri). Ayahnya bernama Jean-Baptiste Grignion (1647-1716) adalah seorang pengacara yang berwatak keras dan temperamental. Ibunya bernama Jeanne Robert de la Viseule (1649-1718) adalah seorang yang taat beragama, lemah lembut dan sabar. Ibunya merupakan putri walikota Rennes.

Louis-Marie merupakan anak sulung. Keluarga ini menganut sistim partriakal dan dibesarkan dengan disiplin yang keras dan takwa kepada Tuhan. Dari delapan anak laki-laki, empat orang diantaranya meninggal waktu masih kecil, tiga orang putra menjadi imam dan satunya menikah. Kedua saudari Montfort menjadi biarawati. Putri yang ketiga meninggal dunia sebagai anggota Ordo St. Fransiskus. Beberapa hari sesudah dibaptis, Montfort dititipkan kepada istri seorang petani yang baik hati di La Bchelleraie, “Ibu Andre” seorang Katolik yang baik.  Dan Louis hamba Tuhan ini, seumur hidupnya amat mencintai dan berterima kasih kepadanya. Sebuah salib telah dipancangkan di tempat bekas rumahnya. Hal ini mengingatkan orang bahwa tempat ini pernah dikuduskan oleh buain seorang kudus. Kehidupan di desa amat keras, namun penuh kedamaian dan gembira. Kenang-kenangan akan hutan dan lading-ladang yang tenteram akan sangat membekas pada waktak mistik anak ini.
Sesudah menjadi anak yang kuat, Ibu Andre mengembalikan Louis-Marie ke rumah ayahnya. Nyonya Grignion yang diserap oleh pemeliharaan keluarganya yang semakin besar, heran bila melihat Louis-Marie begitu tenang disampingnya, smabil mengulang doa-doa yang telah diajarkan oleh pengasuhnya. Tetapi keluarga itu tidak lama tinggal di Montfort. Karena kesulitan ekonomi, Jean-Baptiste Grignion meninggalkan kota dan pindah ke Bois Marguer, sebuah rumah di desa Iffendic, empat kilometer dari kota. Bersama ibunya yang saleh, Louis-Marie pergi ke Gereja di Iffendic. Di depan altar ia berdoa lama seklai dan dengan penuh semangat. Bersama dengan penduduk desa, ia menghadiri misa hari minggu dan membiarkan Sabda Allah mendorongnya denganc ara yang tak terungkapkan. Sepulangnya dari gereja, dia sering mengulangi hampir-hampir harafiah khotbah atau pelajaran Katekismus yang telah didengarnya. Pastilah ia sering sekali, sendirian atau bersama anak-anak lain melewati jaln sempit berbelok-belok di desa itu. Untuk persiapan komuni pertamanya dengan penuh smengat ia mendengarkan imam-imam parokinya dan mendapat dari mereka pelajaran-pelajaran pertama yang menambah pengetahuan dsar yang dipelajarinya di rumah. Seperti Yesus di kenisah, ia membuat guru-gurunya kagum karena kepatuhan, kecerdasan dan usahnya. Kemudian hari guru-guru tersebut menyatkan bahwa ia tak pernah menyulitkan mereka. Semua tugas dikerjakna dengan ikhlas dan tak pernah harus dipaksa. Sudah sedemikain besarnya rahmat yang ada dalam jiwanya di waktu itu.

Kehidupan Santo Montfort Pada Masa Pendidikan
Pada umur 12 tahun St. Montfort menjadi seorang pemuda yang kuat dan cepat matang disertai bakat-bakat intelektual yang besar. Di dekat rumahnya di Kota Rennes ada sekolah yang bernama St. Thomas Becket. Sekolah ini dikelola para Jesuit. Dia akrab sekali dengan seorang profesor yang mengajar ilmu sastra, yaitu Pater Camus. Selama sekolah Montfort tidak meninggalkan kehidupan doa dan kerja dan karenanya tidak tetarik untuk pergi ke tempat hiburan. Dia menggunakan waktunya untuk belajar dan menyelesaikan tugas rumah. Sebelum pergi sekolah dan sepulang sekolah, dia selalu mempersembahkan dirinya kepada Bunda Maria. Dia mengikuti kegiatan-kegiatan Persaudaraan St. Maria yang dihormati di sekolah-sekolah Jesuit. Kehidupan devosional yang demikian membuat dia berani untuk menentang semua percakapan dan sikap yang bertolak belakang dengan sikap sopan santun dan pendidikan yang sehat. Karena sikapnya yang demikian, dia sangat dihormati teman-temannya dan menjadi figure teladan. Ketika kembali ke rumah ia menjadi “guru” untuk adik-adiknya. Ia mengajar adik-adiknya belajar membaca dan menulis dan katekismus.

Menjadi Imam
Selama studi Santo Montfort mengasimilasi dengan baik ajaran imam suci yang mengajar maupun yang dengan cara tertentu terkait dengan Kolose tempat ia sekolah. Terutama keempat orang imam ini: P. Philipe Descartes, P. Prevost, Francois Gilbert dan Julien Bellier. Dari relasi dengan keempat tokoh ini tumbuh dalam diri Montfort tiga hal yang kemudian akan menandai seluruh hidupnya: pertama, kasih dan kepedulian terhadap orang miskin dan sakit; kedua, kasih dan devosi yang hangat kepada bunda Maria; ketiga, kasih dan gairah untuk karya misi. Dalam pencarian spiritual selama masa-masa studi di Rennes ini, ia lalu tiba pada keputusan untuk menjadi imam. Inilah yang dirasakannya sebagai panggilan hidupnya yang pasti. Maka setelah selesai studinya di Rennes, pada usia 20 tahun (1692) ia berangkat ke Paris untuk memasuki Seminari Tinggi St. Sulpice.
Sejak 1692 hingga 1700 Montfort menjadi mahasiswa di Semianri Sant-Sulpice, sebuah seminari tinggi untuk pendidikan calon imam yang didirikan oleh Jean-Jacques Olier pada tahun 1642. Seminari ini terbagi atas Saint Sulpice besar menampung anak-anak bangsawan dan Saint Sulpice kecil menampung para semianris dari kaum kecil dan miskin. Montfort masuk dalam Seminari Saint Sulpice kecil. Selama tinggal di komunitas ini, untuk memperoleh tambahan biaya bagi hidupnya di seminari, Montfort terlihat mengemis di jalan-jalan kota Paris, disamping sesekali menjaga begitu banyak jenasah yang memenuhi kamar-kamar mayat di rumah-rumah penampungan di kota Paris. Selain itu, selama di seminari, ia dituaskan oleh pembimbing rohaninya untuk: mengajar katekismus kepada orang-orang muda dan miskin di Saint-germain, menjadi pustakawan seminari dan menjadi saksi acara di Gereja Paroki St. Sulpice. Selama beberapa tahun ia mengikuti kuliah di Universitas Sorbonne. Bertugas sebagai pustakawan memberi kesempatan kepadanya untuk membaca baik berkaitan dengan buku-buku Marial, Pneumatologi, Kristologi-Trinitarian dan Eklesiologi, pendapat para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja. Hasil bacaan-bacaan itu, dirangkumnya dalam Buku Catatan. Akhirnya, setelah delapan tahun belajar di Saint Sulpice, Montofrt ditahbiksan menjadi imam pada 5 Juni 1700.

Sejak awal karyanya Santo Montfort memiliki kerinduan untuk membuat sebuah kelompok imam-imam yang melaksanakan tugas dibawah panji dan perlindungan Santa Perawan Maria. Kelopok kecil ini nantinya disebut Serikat Maria.

Kehidupan Santo Montfort merupakan kehidupan yang unik dan penuh ketegangan antara kekudusan dan tantangan atas kesekuensi hidup yang dipilihnya.