Biara Menyurai

Rumah Misi Montfort, Menyurai

Rumah Misi Montfort, Menyurai adalah nama baru, sebelumnya rumah ini disebut Biara Montfort. Kata Menyurai menggambarkan daerah dimana rumah ini berada, yaitu Jalan Teluk Menyurai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Kebutuhan Sebuah Rumah SMM
Peralihan kepemimpinan Keuskupan Sintang merupakan sesuatu yang membawa perubahan bagi para  Montfortan di Keuskupan Sintang. Sebelum masa jabatan Mgr. Isak Doera, Keuskupan Sintang telah dipinpin selama 30 tahun oleh Mgr. Lambertus van Kessel, SMM dan oleh Administrator Apostolik Mgr. Lambertus van den Boorn, SMM. Pada masa kepemimpinan mereka seluruh staf Keuskupan merupakan para Montfortan: vikaris jendral, sekertaris keuskupan, bagian pendidikan dan bagian keuangan. Kebijakan Keuskupan menjadi kebijakan Serikat Maria Montfortan dan juga sebaliknya.

Perubahan kepemimpinan merupakan suatu langkah manju menuju kemandirian Gereja Keuskupan Sintang, namun sebaliknya keberadaan SMM menjadi mengambang. Sampai pada saat itu para montfortan belum membangun rumah khusus bagi mereka sendiri karena semua yang telah dibangunnya selama ini menjadi milik Keuskupan Sintang dan di huni bersama imam-imam bukan SMM.

Rencana Pembangunan Rumah Misi Montfort
Pada tanggal 17 Januari 1985 Para Montfortan mengadakan musyawarah regio dengan membahas dua hal penting, yaitu Novisiat/Seminari Montfortan di bandung dan pembangunan Rumah Misi Montfort di Menyurai, Sintang. Hasil dari musyawarah ini mendukung untuk memulai Novisiat/Seminari Montfortan di bandung dan pembangunan Rumah Misi Montfort di Menyurai, Sintang.

Pembangunan Rumah Misi Montfort di Sintang baru dikulai setelah urusan rumah novisiat di bandung beres. Di sanan telah tersedia tanah seluas 1,5 hektar yang dibeli dengan harga 37 juta rupiah. Tanah tersebut terletak dipinggiran Kota Sintang, yaitu  Menyurai.

Dalam Kapitel Provinsi Belanda, Pastor Piet dan Pastor Kees melaporkan pula bahwa didalam pertemuan-pertemuan, para konfrater membicarakan tema-tema yang berhubungan dengan pengembangan hidup religius, formasi SMM, dan soal Rumah Misi Montfort yang baru di Sintang. Para perserta kapitel mendukung rencana Regio Indonesia dalam hal pastoral kategorial ala Montfort, formasi Montfortan Indonesia, dan mebangun biara Montfort di Menyurai sintang.

Para Penghuni

Rumah Misi Montfort, Menyurai
Ketika pembangunan Rumah Misi Montfort sudah hampir selesai, Bruder Piet van Hoof dan Djamal pindah ke rumah baru. Pada akhir Desember 1987 Ad Sommers pun menempati biara baru itu, disusul oleh Kees Smit dan Hub Swerts pada permulaan Januari 1988. Sedangkan Joep van Lier merasa lebih epat menetap di rumah keuskupan sehubungan dengan tugas barunya sebagai ekonom keuskupan, menggantikan Hub Swerts, yang sekarang berganti tugas menjadi superior rumah pertama Rumah Misi Montfort Menyurai ini. Selesai dengan kepindahan ini Pater Regional Kees mengumpulkan komunitas dan mengajak para konfrater untuk membuat jadwal hidup bersama, kapan berekreasi bersama, kapan berdoa bersama, kapan makan bersama dan kapan berkarya. Ia mengingatkan para konfrater bahwa rumah baru itu adalah biara, sebuah komunitas Montfortan yang hidup, berdoa dan bekerja bersama di dalam spiritualitas Montfortan. Biara Montfort itu bukan hotel atau tempat penginapan di mana kita makan/minum tiga kali sehari. Bersama-sama mereka berhasil menyusun suatu jadwal harian yang membuat komunitas Biara Montfort menjadi suatu komunitas yang sangat berarti bagi seluruh anggota regio dan bagi lingkungan, Pater Jaak Maessen belum pindah ke biara karena masih menempati Rumah Komsos di Sungai Durian. Namun komunitas Montfortan sempat terkejut mendengar berita bahwa dengan dukungan uskup, akan tetapi tanpa sepengetahuan superior, Jaak yang pernah tamat sekolah pilot pesawat terbang kecil itu telah berkunjung ke Irian untuk mencari tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengadaan pesawat terbang bagi keuskupan. Cita-cita Jaak untuk mendapatkan sebuah pesawat terbang (misalnya saja Cesna seperti yang dimiliki oleh para Protestan di Klansam) itu, mungkin juga sejalan dengan Keuskupan Sintang yang juga memikirkan suatu usaha untuk kelancaran perhubungan. Mendengar hal ini maka Dewan Regio SMM segera mencari informasi kepada para pemimpin religius di Irian Jaya dan para konfrater Montfortan di Papua Nugini yang telah mempunyai pengalaman dalam memanfaatkan penggunaan pesawat terbang. Dengan demikian dewan regio berarti telah merespons gagasan Jaak, meski 56) Dikutip dari buku “Spiritualitas Pelayanan”, hasil rapat koptari 1987.

Tim Sibeji
Tim Sibeji adalah Tim Pastoral Kategorial yang dibentuk oleh para Montfortan untuk menangani bina lanjut umat yang berpangkal dari semangat atau spiritualitas Montfortan, khususnya dalam memperdalam penghayatan janji-janji baptis. Tim Pastoral Kategorial ini dibentuk berdasarkan inspirasi dari hasil Kapitel Jenderal SMM tahun 1993 tentang pembaharuan visi misi Serikat Maria Montfortan yang berpangkal pada empat pilar spiritualitas, yaitu evangelisasi, marial, kerja sama (komunitas), dan lepas bebas. Mencermati hasil kapitel tadi, pada awalnya komunitas Sintang menekankan untuk membentuk tim keliling yang akan melayani umat dari paroki ke paroki tanpa terikat struktur dan wilayah, namun tetap dalam kerja sama dengan pastor paroki setempat. Tim keliling lalu tinggal beberapa waktu di tempat itu untuk mengembangkan karya misi dan setelah itu akan pindah ke paroki yang lainnya. Bisa dikatakan bahwa tim yang akan dibentuk mengambil rupa kegiatan yang pernah dilakukan oleh Montfort sendiri semasa hidupnya di wilayah Prancis Barat. Namun demikian tim keliling tadi tidak dapat berjalan karena situasi di lapangan belum memungkinkan. Banyak ditemukan kendala psikologis serta ketidaksiapan paroki-paroki yang akan diajak bekerja sama. Tim keliling sendiri pun belum bisa merumuskan program yang jelas, serta kurang siapnya tenaga yang dimiliki oleh SMM.

Dengan tidak dimungkinkan terbentuknya tim keliling tadi maka pada tahun 1998, dewan regio mulai menjajaki terbentuknya suatu tim baru yaitu Tim Pastoral Kategorial. Tim ini akan bekerja langsung di bawah naungan serikat. Dewan secara sungguh-sungguh mempersiapkan tenaga yang akan bekerja di Tim Pastoral Kategorial yang satu ini, yaitu P. Arifin Dwirahmanto, yang diikutkan di rumah retret Civita pada saat diakonatnya, Diakon Widyatmoko yang mempunyai bakat khusus dan cinta pada kaum muda, serta Bruder Gunarto yang berlatar belakang pendidikan katekese. Mereka bertiga diharapkan dapat mulai merintis Tim Pastoral Kategorial Menyurai. Pater Joep van Lier sebagai pemimpin komunitas Menyurai sangat membantu terbangunnya tim ini sejak cikal-bakalnya sekali. Tim ini belum mempunyai tempat untuk mengadakan kegiatan, sehingga diusahakan untuk meminjam sebidang tanah dan bangunan keuskupan di seberang biara Montfort Menyurai dan kemudian dibangun di situ sebuah bangsal. Pihak keuskupan menyambut baik usulan SMM untuk menggunakan bangunan di seberang biara itu dan Mgr. Agustinus Agus, Pr segera menunjuk Pastor Miau, Pr, pastor Paroki Katedral pada waktu itu, untuk mengusahakan izin bangunan bangsal kepada Pemerintah Kabupaten Sintang. Dalam kontrak dengan Keuskupan Sintang, disepakati bahwa SMM mempunyai hak untuk menggunakan lahan dan bangunan di atasnya tersebut, keuskupan juga tidak meminta uang sewa, tetapi SMM bertanggung jawab atas pemeliharaan rumah-rumah yang ada serta membayar uang listrik dan air sendiri. Biaya rehab dan perbaikan juga menjadi tanggung jawab SMM.

Sejak saat itu, Tim Sebiji mulai dirintis. Tim ini mulai menghubungi paroki-paroki, sekolah-sekolah dan institusi-institusi lainnya untuk menawarkan program-program yang bisa didampingi oleh tim ini. Untuk paroki disiapkan paket kursus persiapan perkawinan, pembekalan DPP, pembinaan kaum muda, kaderisasi, dan kursus pemimpin umat. Untuk sekolah-sekolah disiapkan paket bahan retret, rekoleksi, konferensi tentang gender, dan latihan kepemimpinan tingkat dasar. Tim juga siap mendampingi kelompok-kelompok non gerejani. Tawaran yang diajukan oleh Tim Sebiji ini disambut dengan cukup antusias, khususnya oleh sekolah-sekolah. Beberapa paroki juga meminta tim ini menjadi fasilitator dalam pertemuan mereka. Bagi sekolah-sekolah, kegiatan tim ini dirasakan sangat sesuai dengan kurikulum yang mengembalikan pendidikan agama dan budi pekerti ke dalam sistem pendidikan. Pendidikan agama dan budi pekerti memang telah dirasakan sebagai pelajaran yang terkesan hanya formalitas belaka.

Selain melayani umat tim ini juga bertanggung jawab terhadap bina lanjut para Montfortan yang bekarya di Keuskupan Sintang bahkan Kalimantan Barat. Setiap dua bulan sekali mereka mengkoordinir pertemuan para konfrater dalam bidang maupun penghayatan hidup bakti sebagai Montfortan. Mereka bertanggung jawab menyiapkan materi pertemuan, menentukan jadwal, dan bahkan jika diperlukan mencari narasumber. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab terhadap para TOP-er yang bekerja dan ditempatkan di komunitas-komunitas di Kalimantan. Kegiatan Tim Bangsal Sebiji adalah membantu Gereja secara umum dalam pembinaan-pembinaan umat lainnya, menegaskan janji-janji baptis umat melalui pelayanan retret dan rekoleksi.

Agroforestry
Hidup dan berkarya di wilayah Keuskupan Sintang semakin mendekatkan para Montfortan kepada masyarakat serta alam di sekitarnya. Tergerak oleh cinta lingkungan serta keinginan untuk membantu orang-orang Dayak, di waktu rekreasi dan pertemuan-pertemuan, para konfrater sering membicarakan tema “bagaimana membantu orang-orang kampung menentang cara kerja yang mengakibatkan rusaknya lingkungan yang diakibatkan oleh musim kemarau yang berkepanjangan dan di bawah tebalnya asap akibat kebakaran hutan?” Hasil pembicaraan ini menggerakkan minat Pater Jaak Maessen dan Bruder Piet van Hoof untuk menggalakkan sistem pertanian baru yang diberi nama Agroforestry yang artinya adalah berhuma sambil melestarikan hutan. Hutan yang dimaksudkan adalah pepohonan yang bisa memberikan hasil seperti: buah-buahan, karet, dan lain-lain. Di kedua sisi areal yang digarap, ditanami pohon buah-buahan. Di antara baris pepohonan itulah penggarap mengusahakan ladang padi. Dengan demikian tanah yang digarap tidak akan hilang terbawa erosi, selain bahwa barisan pepohonan itu juga akan menahan dan menyimpan air hujan.

Br. Piet
Jemelak