Paroki Epifani, Siut

Paroki Epifania Siut Melapi terdiri dari 13 stasi dan 15 lingkungan dengan jumlah umat seluruhnya pada akhir tahun 2022.

Paroki Penampakan Tuhan (Epifania) Siut-Melapi adalah hasil pemekaran dari Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Putussibau, berdasarkan Su­rat Keputusan No. 197/Par/79 dari tanggal 24 Agustus 1979  yang dikeluarkan oleh Mgr. Isak Doera. Dalam Surat Keputusan ini, Mgr. Isak Doera membuat pemekaran paroki-paroki dari 7 paroki menjadi 34 paroki. Pastor Jean Subra. OMI menjadi pastor paroki Siut-Melapi. Wilayah paroki ini meliputi wilayah Kecamatan Putussibau Selatan dari Batang Suai sampai Tanjung Lokang, yang terletak di Hulu Sungai Kapuas.

Tidak diketahui pasti kapan mulainya misi Katolik di daerah Siut dan Melapi. Catatan turne paroki Bika dan Putussibau sebelum tahun 1948 tidak ditemukan dalam arsip. Tetapi berdasarkan catatan turne Pastor Fulgentius, yang saat itu adalah pastor paroki Sintang, ia pergi ke Bika pada tanggal 23 Oktober 1932 untuk inspeksi sekolah. Karena kapal motor milik Bika sedang rusak, sehingga Pastor Fulgentius, Pastor Oktavianus, dan rombongannya harus berdayung menuju Melapi pada tanggal 25 Oktober 1932. Berangkat jam 04:45 pagi buta dan tiba di kampung Rumah Bok jam 20 malam. Karena tak dapat dilanjutkan lagi maka mereka harus berjalan kaki hingga tiba di Melapi pada jam 21 malam.

Tujuan para misionaris Kapusin pergi ke Melapi ialah untuk inspeksi sekolah misi di Betania. Karena sudah ada sekolah, maka sudah dapat dipastikan bahwa sudah ada kunjungan yang agak teratur ke Melapi sejak berdirinya Paroki Bika. Dari Melapi, dua Pastor kapusin ini melanjutkan perjalanan ke Padua di Mendalam, pada tanggal 27 Oktober 1932. Pastor Fulgentius, OFM Cap dan Pastor Flavianus, OFM Cap hendak ke Melapi lagi pada tanggal 22 Februari 1934, tetapi batal, karena guru yang mengajar di Melapi sakit dan diopname di Bika, ditangani oleh seorang dokter.

Daerah-daerah sekitar Putussibau, termasuk Siut dan Melapi sudah mulai dikunjungi secara teratur sejak berdirinya Paroki Putussibau tahun 1947. Pastor Hub Reijnders, SMM melakukan banyak kunjungan ke kampung-kampung di wilayah paroki Putussibau. Pastor Reijnders mengunjungi Melapi pada tanggal 22 Maret 1949 dan bertemu dengan seorang guru, yaitu Pak Bau. Beliau kembali mengunjungi Melapi pada tanggal 27 Juni 1949. Pastor ini kembali ke Melapi pada tanggal 23-24 November 1953 dan menikahkan Yohanes Dayut dengan Sarika. Tahun-tahun berikutnya kunjungan pastoral dari Putussibau menjadi lebih teratur karena sudah menjadi salah satu stasi penting dari paroki putussibau.