Paroki St. Antonius Padova, Pasuruan

Masa Sebelum Terbentuk Paroki
Agama Katolik masuk ke Nusantara secara resmi ditandai dengan kedatangan dua pastor Yesuit yaitu pastor Jacobus Nelissen dan pastor Libertus Prinssen pada 4-4-1808 di Batavia.

Semula seluruh Hindia Belanda merupakan ”daerah misi” dengan status adalah Prefektur Apostolik Betawi. Pastor Jakobus Nilissen sebagai Prefek Apostolik Pertama. Status Perfektur ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Betawi dengan Pastor Yakobus Groff sebagai Vikaris Apostolik Pertama (20 September 1842) yang meliputi hampir seluruh wilayah Nusantara (Hindia Belanda)

Sekitar tahun 1880 sudah muncul usulan agar Vikariat Apostolik Betawi (yang tunggal) dimekarkan dan bagian-bagiannya dipercayakan kepada Ordo-ordo Religius. Namun baru di antara tahun  1902-1919 banyak wilayah dipisahkan dari Vikariat Apostolik Betawi dan diangkat sebagai Prefektur otonom. Vikariat Apostolik Betawi tinggal meliputi Pulau Jawa saja. Pemekaran kemudian berlanjut dengan dibentuknya propinsi-propinsi gerejani di Pulau Jawa.

Sejak tanggal 19 Pebruari  1923, daerah misi yang dipercayakan kepada Ordo Karmel adalah wilayah bagian timur Jawa Timur meliputi Karesidenan Malang, Karesidenan Besuki dan Pulau Madura dengan pulau-pulau kecil di sekitarnyamerupakan cikal bakal terbentuknya keuskupan malang yang dimulai dengan diresmikan.

Pada tanggal 3 Agustus 1923 diadakan acara “serah terima” antara imam-imam Yesuit dengan para Imam Karmel. Pada tanggal 10 Mei 1927 , daerah misi ini ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik Malang oleh Paus Pius XI dan Pastor Clemens van der Pas, O. Carm diangkat menjadi Prefek Apostolis Malang pertama. Pelantikannya dilakukan pada tanggal 20 Nopember 1927 oleh Mgr. A.P.F. van Velzen, SJ (Vikaris Apostolik Betawi).

Pembangunan Gedung Gereja
Sebelum menjadi paroki, Pasuruan merupakan stasi dari Gereja Permanent yang dikunjungi secara tetap sejak 1825. Gedung gereja ini lebih tua dari Gereja Hati Kudus Kayutangan Malang (tahun 1906) dan Gereja Lawang (tahun 1916).

Gedung gereja dibangun atas sumbangan seorang dermawan bangsa belanda yang bernama Alexander Manuel Anthonijs. Anthonijs adalah seorang pengusaha sukses yang juga merupakan pegawai Proefstation Oost Java (POJ) yang sekarang bernama Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI).  Karena Santo Antonius dari Padova merupakan pelindung keluarga Anthonijs, maka gereja katolik di Pasuruan juga diletakkan di bawah perlindungan Santo Antonius Padova. Pada tanggal 28 Juli 1895, gedung gereja ini diberkati oleh Mgr. W.J. Staal, Uskup Batavia (sekarang Jakarta) seperti tercantum pada prasasti marmer yang terdapat didekat pintu masuk utama gereja lama sebagai berikut:

DEZE KERK GESTICHT DOOR DE MILDDADIGHEID VAN DEN WEG. HEER ALEXANDER MANUEL ANTHONYS WERD INGEZEGEND DOOR DEN TIT. BISSCHOP V.  MAURICASTRO W. J.  STAAL 28 JULY 1895

Yang terjemahannya adalah: Gereja ini, pembangunannya berkat kedermawanan dari Tuan Alexander Manuel Anthonys diberkati uskup kehormatan (titulair bishop) dari Mauricastro W.J. Staal pada 28 Juli 1895.

Pembentukan dan Perkembangan Paroki
Sejak berdirinya gedung gereja, kurang lebih selama 28 tahun umat dikunjungi oleh pastor dari dengan naik kuda dari Surabaya menuju Pasuruan. Pada tahun 1923, ketika imam karmelit diberi tugas untuk bekerja di wilayah residensi Malang, Besuki, dan Pamekasan. Pada tahun 1924, stasi Probolinggo didirikan. Sejak itu Gereja Pasuruan dikunjungi pastor dari Probolinggo satu bulan sekali.

Pada tahun 1931, gedung pastoran dibangun dengan biaya 1200 gulden. Pada 31 Januari 1932 Pasuruan diberi seorang pastor yang menetap  yaitu Romo Gregorius Jongmans, O Carm. Lalu status Pasuruan ditingkatkan dari stasi menjadi Paroki. Setelah menjadi paroki, maka pelayanan pastoral seperti baptisan, krisma, komuni pertama, kematian, perkawinan  dan lain-lain boleh dicatat setempat di paroki sendiri, tidak lagi harus dicatat di Gereja Kayutangan Malang yang sebelumnya merupakan gereja induk stasi Pasuruan.

Adalah suatu hal yang menarik dan merupakan keindahan tersendiri kalau tanggal berdirinya sebagai paroki disatukan dengan tanggal peringatan santo pelindungnya. Maka ditetapkan tanggal 13 Juni sebagai Hari Raya Paroki Pasuruan dan tanggal 13 Juni 1932 adalah Hari Raya Paroki Pasuruan yang pertama (lihat serba-serbi).

Pada tahun 1932 itu, tepatnya tanggal 13 Februari 1932 tercatat di buku baptis, seorang baptisan pertama bernama Santy Lily, anak dari Lodewijk Jacob B. Memang pada waktu itu umat katolik Pasuruan kebanyakan orang eropa. Akan tetapi pada tanggal 31 Maret 1934 tercatat nama Betty Djie Kiem Hwa (sekarang Oei Siem Kwie) sebagai orang Pasuruan pertama yang dibaptis. Sejak saat itu umat Pasuruan makin berkembang.

Mulai dari tahun 1932 sampai sekarang terdapat 23 pastor yang pernah bertugas di Paroki Santo Antonius Pasuruan, baik sebagai pastur kepala maupun sebagai pastur pembantu. Nama dan masa tugas gembala umat di Pasuruan disajikan pada Tabel tersendiri.

Seiring dengan perkembangan umat, gedung gereja pun berkembang. Dimulai tahun 1975, gedung gereja baru dibangun pada masa Romo Harmelijnk. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Bapa Uskup Mgr. F.X. Hadisoemarto pada tanggal 28 Juli 1975, sehari setelah peringatan sepuluh windu Gereja Santo Antonius yang kala itu diperingati tanggal 27 Juli 1975. Gereja baru diberkati Bapak Uskup pada 4 April 1976.

Pada masa Romo Hudiono, tahun 1993 kursi gereja yang terbuat dari besi dan spon diganti dengan kursi kayu yang  ada tempat berlutut. Genting gereja lamapun diganti baru. Gedung pastoran juga direnovasi. Di bagian belakang pastoran dibangun gedung bertingkat dua yang digunakan sebagai kantor dan ruang rapat. Pada tahun 1995 dalam rangka perayaan 100 tahun gedung gereja, dibangun gapura yang kokoh ke arah jalan Balaikota. Pada masa Romo Hudiono digalakkan kecintaan umat untuk membaca kitab suci.

Perkembangan Paroki Masa Kini
Pada kurun waktu 1999-sekarang yaitu pada masa penggembalaan Romo Irwanto, banyak pembangunan fisik dilakukan diantaranya penggantian lantai gereja baru, perbaikan dekorasi dan desain altar serta pembangunan aula Saint Peter, yang menempel dengan pastoran gereja. Tidak hanya gereja di Pasuruan, Kapel di Stasi Bangil pun direnovasi dan dilengkapi dengan berbagai sarana seperti lukisan jalan salib, aula, ruang kantor, organ dan sebagainya.

Tidak hanya berupa pembangunan fisik, pada masa ini tercatat perkembangan kegiatan menggereja yang signifikan. Seiring perkembangan demokrasi di Indonesia, pemilihan pengurus dewan paroki dan lingkungan juga dilaksanakan dengan demokratis. 

Paroki Pasuruan meliputi wilayah Kota Pasuruan dan sebagaian wilayah Kabupaten Pasuruan. Sekarang ini secara gerejawi dibagi menjadi 13 lingkungan dan 2 stasi. Pada mulanya nama-nama lingkungan tidak terlihat keteraturannya.  Seiring dengan himbauan untuk berdevosi kepada pelindung, baik pribadi, maupun kelompok seperti lingkungan. Pada tahun 2001, disepakati perubahan nama lingkungan dan mengacu kepada murid-murid Yesus yang awal. Perubahan nama disajikan pada tabel. Seiring dengan perubahan nama ini, tiap tanggal pesta pelindung, lingkungan-lingkungan mengadakan devosi dan perayaan.

Secara akta notarial BPGDA, nama resmi Paroki Pasuruan adalah ‘St. Antonius”. Untuk memperjelas karena banyak orang kudus bernama ”Antonius” maka yang digunakan sehari-hari adalah   nama ”St. Antonius Padua”. Pada masa Romo Irwanto nama tersebut disesuaikan dengan nama asli kota di Italia menjadi St. Antonius Padova. (Lebih jelasnya lihat serba serbi).